ADA yang ganjil dari kontes kecantikan yang digelar di Planet Hollywood Resort & Casino di Las Vegas Minggu malam atau Senin (17/5) WIB. Yang terpilih sebagai Miss USA 2010 adalah sebuah nama yang terasa ”kurang nyiku” dalam optik industri hiburan negeri Paman Sam. Nama itu Rima Fakih (24). Fakih yang kemudian dinyatakan berhak tinggal satu tahun dalam apartemen di New York (dengan biaya hidup terjamin serta layanan kesehatan dan perawatan profesional), adalah wanita muslimah berdarah Arab (Lebanon). Dia mengungguli 50 kontestan lain. Berarti menyabet tiket untuk mewakili AS di ajang Miss Universe 2010.
Adiknya, Rana Faqih, berkata, ”Kami bangga ..., meski ada tekanan dan stereotip.” Lahir dari keluarga Syiah yang —kita tahu— memiliki tradisi berbusana yang ketat bagi kaum wanita, Rima Fakih menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa di Lebanon Selatan, yang dibom dalam perang Israel-Hizbullah 2006. Tapi sudah sejak 1993 keluarga membawanya pindah ke AS.
Kata fakih di belakangnya itu dalam terminologi Arab mengacu ke pengertian ahli fikih atau hukum Islam (syariat). Rima Fakih pernah menghirup cuaca kehidupan seharihari di masa remajanya saat ”kitab fikih” dan tradisi syi’i telah demikian streng mengontrol tiap tubuh, juga tubuhnya, sebagai muslimah dan kaum syiah.
Tapi setelah hijrah ke AS yang logro, barangkali Rima tak membutuhkan bayang-bayang itu dan ”tekanan” yang tertera dari balik nama belakangnya. Terutama ketika bikini (benda ”ajaib”) warna emas dan oranye yang dilampirkan orang ke organ bokongnya (saya tahu karena mata saya turut dibimbing seribu kamera: astaghfirullah) sesaat sebelum berlenggaklenggok di hadapan juri Las Vegas, telah dinajiskan para fukuha.
Saya bisa banyak bacot soal fikih. Terutama setelah menyimak Rima Fakih yang membekali kita dengan sejarahnya. Poin saya: ketentuan fikih kadang kala bisa tak beda dengan ”peraturan” surga tapi dari optiknya seorang Yudhistira.
Bagi sulung Pandawa ini surga ternyata tak lebih sebagai tempat yang gawat. Surga tauladan ketakadilan! Lha, kok bisa? Yudhistira ditolak masuk ke sana hanya karena satu alasan dan tidak lebih: ia bertekad membawa serta seekor anjing yang menjijikkan menemani ke surga.
”Kau, Yudhistira, harus meninggalkan hewan kurus itu di luar. Kalau tidak, jangan harap bisa masuk,” kata Dewa Indra mencegat di pintu gerbang. ”Kenapa?” ”Karena ada protokoler yang melarang tiap yang najis masuk ke ruang yang suci!” Dialog keduanya itu salah satu scene dalam Mahabharata yang paling layak untuk bahan novel yang bagus. Dan konon Yudhistira menjadi tak tertarik masuk surga.
Baginya, tempat yang menjadi puncak ”keadilan” itu justru fasis. Yudhistira percaya jika ia larut ke sana ia akan turut memantapkan ketidakadilan.
Tentu menganalogikan cawat yang menemani Rima Fakih dengan anjing Yudhistira tak sepenuhnya beres. Saya sebagaimana Rima Fakih: bakal gelagapan jika disekak dengan pertanyaan seorang ”fakih”.cawat renang yang telah dietalasekan di bangkekan Rima di bawah sorot seribu kamera dan pelototan berjuta-juta pasang mata adalah sesuatu yang —dalam bahasa Yudhistira kepada Indra— telah ”dengan setia menemani hamba sejak batas kota Hastina”? Validkah menjalani hidup dengan ikhlas dalam pangkuan norma (yang notabene telah diyakininya sebagai muslimah) hanya otomatis menjadikan Rima Fakih menjadi ”hamba yang sesat arah dalam perjalanan pendakian ke puncak Mahameru yang berdarah-darah”? Hingga membutuhkan semacam tawasul yang ternyata sekadar benda cemen berupa cawat? Catatan: ”ritual” Miss Universe memang bermula pada 1952 sebagai ajang promosi cawat produk lokal di Long Beach, California (dus, bukan ajang unjuk ”intelektualitas” para kontestan yang belakangan harus dibahasakan).
Masih kepada ”Yth” Rima Fakih: di manakah momentum-momentum persilangan sejarah subjekmu dan ”gombal ajaibmu” itu? Sejak kapan dua potong cawat yang bergantian dibalutkan ke lokasi sekitar selangkanganmu di bawah rubungan kamera telah berstatus sebagai ”anjing” bagi sejarah ke-Yudhistira- anmu? Atau sebagai ”jilbab” bagi keber-muslimah-anmu? Minimal bagi tradisi lokal keber-syiahanmu? Beda dengan cerita sorgaloka ala Mahabharata. Kita baca ia begitu bla-bla-bla dalam mengetengahkan momentumnya. Misalnya ketika binatang najis itu berbuat ganjil membimbing perjalanan (menjadi guide bagi) tuannya saat mendaki Mahameru.
Dan sebaliknya, tentu saja, ketika sang tuan pernah menjadi pendosa saat dalam Bharatayudha, atas bujukan Khrisna, membohongi Guru Drona dengan meng-iya-kan kebenaran desas-desus kematian Aswatama.
Kitab fikih menjadi kodifikasi yang begitu merepotkan Rima Fakih saat memutuskan perkara ke arah geografi-momentum apa bikini itu etis dikenakan (baca: auratnya sah disodorkan)? Ke arah geografi momentum privat atau geografi tersorot? Rima Fakih mungkin saja sudah tak peduli jika ada yang mengatakan bahwa ia sedang mengkhianati ”tanah air” fikihnya. Lantaran Las Vegas adalah force majeur yang ekstrem. Di lekuk tubuh Rima Fakih saat itu doktrin moral terkelupas sebagai rem yang mengontrol kemuslimahanya. Baginya, de minimis non curat lex. ”Hukum jangan urusi rembyak-rembyaknya hal”.
Terutama di negara seliberal AS tempat notabene ”jilbab” nilai-nilai seluruh agama sudah disampirkan. Agama apa pun bisa terlempar ke luar dari titah-preskriptif-industrial yang terlampau becus membikin tiap sudut kesakralan tersulap jadi benda profan (yang anehnya bisa tetap ”ajaib”). Dan norma serta nilai-nilai spiritual jadi tiba-tiba tampak logro-penerapan. Agama di sana beraninya berteriak dari posisi yang agak menjauh dari kekuatan kebebasan yang datangnya mengingatkan kita pada konsistensi dan kesabaran ombak.
Sejak melemparkan diri ke Michigan, tubuh Rima Fakih terproklamasi menjadi bola acak yang diperebutkan. Menjadi ruang publik yang bisa disewa untuk keperluan penempelan iklan. Tertimang dalam ”rezim-cawat” itu tubuh Rima Fakih tergelundung ke dalam garis kalkulator yang menghitung, mencapai, memproduksi, mereproduksi.
Hari-hari menjalani prosesi permak di apartemen, Rima Fakih sedang dipertalikan dalam satu bundel ”kitab” bio-ekonomi. Tubuhnya menjadi ”pencakar langit, jazz, dan koktail” seperti yang pernah dideret penyair Federico García Lorca saat ngonangi sesuatu yang moglakmaglik eksistensial di New York.
Hingga tiap ajang ”mis-misan” itu pun akhirnya sebuah mesin produksi yang absurd. Karena mustahil Las Vegas atau New York adalah bengkel tempat satu organ bokong seseorang dijaga secara repetitif dari kemungkinan menjadi kendur dan ringsek.
Sebab inilah adagiumnya: ”Sesudah tahun ini memahkotai tinggal tahun depan membuang”. Silih berganti. Seperti gulungan ombak yang sesampai di tepi pantai harus pecah dan ringsek. f Yon A Udiono Litbang Lembaga Studi Sosial Normatif (Lesson) ( From : Wawasan koran sore )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar